Sejarah Dan Fakta Tentang Olahraga Sumo

Published 2 years ago -


Sumo adalah salah satu olahraga tradisional yang telah berusia lebih dari 2000 tahun. Olahraga Sumo berasal dari Jepang dan telah mengakar sejak tahun 1.500-an pada zaman kekaisaran Jepang. Dahulu Sumo dikenal dengan sebutan Sumai. Tradisi ini merupakan simbol kepahlawanan dan juga keagamaan. Tepatnya pada abad ke-16, penguasa Jepang yang bernama Oda Nobunaga sering menyelenggarakan turnamen sumo. Pada masa Oda Nobunaga, Pesumo masih memakai penutup tubuh bagian bawah dari kain kasar yang longgar. Di zaman Edo, pegulat sumo bertanding dengan mengenakan mawashi bermotif indah dan gagah yang disebut kesho mawashi. Kini, kesho mawashi hanya dikenakan pegulat sumo pada saat berparade di atas dohyō di awal pembukaan turnamen.

Dohyō

Dohyō adalah arena pertandingan sumo, yang panjang sisi-sisinya 570 cm, tingginya 66 cm dan diameter lingkaran pertandingannya 455 cm yang dibuat di atas tanah. Arena pertandingan sumo ini memiliki atap menyerupai atap kuil agama Shinto yang disebut tsuriyane yang beratnya mencapai 6 ton.

Di keempat sudut atap tsuriyane ini tergantung jumbai-jumbai raksasa yang melambangkan empat musim di Jepang, yaitu jumbai berwarna hijau di sisi timur melambangkan haru (musim semi), jumbai berwarna putih di sisi barat melambangkan aki (musim gugur), jumbai berwarna merah di sisi selatan melambangkan natsu (musim panas) dan jumbai berwarna hitam di sisi utara melambangkan fuyu (musim dingin).

Turnamen

Dalam setahun ada enam turnamen besar yang disebut Grand Tournaments. Grand Tournaments ini dilaksanakan 3 kali di Tokyo yaitu bulan Januari, Mei dan September dan masing-masing sekali di Osaka pada bulan Maret, Nagoya pada bulan Juli dan di Fukuoka pada bulan November. Lamanya tiap turnamen adalah 15 hari yang dimulai pada hari Minggu dan diakhiri pada hari Minggu pula.

Rikishi (pesumo/ pegulat) pada tingkatan makunouchi dan juryo bertanding 15 kali dengan lawan yang berbeda sekali dalam sehari, sedangkan rikishi pada tingkatan yang lebih rendah yaitu yang berada di tingkat makushita, sandanme, jonidan dan jonokuchi hanya bertanding sebanyak 7 kali (sekali dalam sehari dengan lawan yang berbeda-benda pula).

Rikishi pada tingkatan makunouchi dan juryo yang menang minimal 8 kali dan rikishi pada tingkatan makushita, sandanme, jonidan dan jonokuchi yang menang minimal 4 kali akan dirpomosikan ke tingkat yang lebih tinggi, sedangkan yang kalah akan diturunkan peringkatnya. Rikishi pada tingkatan tertinggi yang dapat memenangkan 13 atau 14 kali pertandingan akan dinayatakan sebagai juara.

Katanya semakin besar badan seorang pesumo, maka kemungkinan menang juga akan semakin besar. Atlet sumo yang rata-rata memiliki berat badan sekitar 150 hingga 270 kg dengan tinggi badan bisa mencapai 2 meter. Sumo yang ada saat ini, berbeda dengan Sumo yang ada pada zaman dahulu. Pesumo zaman dahulu bertarung sampai mati karena masih sedikitnya peraturan yang mengatur tentang olahraga ini. Kalau sekarang, sumo profesional diatur oleh Asosiasi Sumo Jepang (Nihon Sumō Kyōkai).

Anggota asosiasi terdiri dari Oyakata yang semuanya merupakan mantan pegulat sumo. Oyakata adalah pimpinan pusat latihan (heya) tempat bernaung para pegulat sumo profesional.Peraturan asosiasi menetapkan bahwa perekrutan calon dan pelatihan pegulat sumo hanya berhak dilakukan oleh Oyakata. Di Jepang saat ini terdapat sekitar 54 pusat latihan sumo (heya) tempat bernaung sekitar 700 pegulat sumo.

Sumo memiliki berbagai upacara dan tradisi unik seperti menyebarkan garam sepanjang pertandingan untuk mengusir bala. Pertandingan sumo selalu didahului oleh ritual yang panjang, walaupun pertandingannya sendiri sering hanya berlangsung beberapa detik. Pertunjukan hiburan yang menampilkan pertandingan pegulat sumo profesional sudah dimulai sejak zaman Edo. Pegulat sumo pada masa itu konon berasal dari samurai atau ronin yang membutuhkan sumber penghasilan alternatif.

Turnamen sumo profesional hanya diselenggarakan di Jepang walaupun pegulat sumo profesional sebagian besar berasal dari luar negeri. Takamiyama, Konishiki dan Akebono adalah nama tiga orang pegulat sumo profesional kelahiran Hawaii yang sukses di Jepang. Takamiyama adalah orang asing pertama yang berhasil menjadi juara divisi paling atas pada awal tahun 1970-an. Jejak Takamiyama diikuti oleh Konishiki yang berhasil memenangkan divisi paling atas dalam 3 kali turnamen. Konishiki merupakan orang asing pertama yang berhasil mencapai peringkat Ozeki.

Pada tahun 1993, Akebono adalah orang asing pertama dalam sejarah sumo yang berhasil menjadi Yokuzuna. Pegulat sumo profesional harus berjenis kelamin laki-laki berdasarkan tradisi turun temurun sejak berabad-abad yang lalu. Peraturan asosiasi sumo yang sering menjadi kontroversi adalah peraturan yang tidak mengizinkan wanita naik ke atas dohyō karena dikuatirkan bisa mengotori dohyō yang dianggap suci. Namun, ada fakta lain yang tidak diketahui tentang sumo oleh masyarakat dunia. Berikut ini beberapa fakta dari olahraga beladiri sumo:

1. Sumo ritual keagamaan

Sumo adalah salah satu olahraga tertua di dunia, sudah ada sejak 1500 tahun yang lalu. Pada awalnya sumo adalah bagian dari ritual agama Shinto, dimana manusia bergulat dengan kami (dewa Shinto). Dohyo (ring sumo) bisa ditemukan di banyak kuil di Jepang. Hubungan antara sumo dengan shinto masih bisa dilihat sampai sekarang. Wasit dalam pertandingan sumo bertindak sebagai “pendeta shinto”.

2. Wasit dan bunuh diri

Wasit adalah orang yang paling ‘dibenci’ dalam setiap pertandingan olahraga apapun. Keputusan yang mereka ambil akan sangat menentukan hasil pertandingan. Pengambilan keputusan yang salah satu kali saja bisa mengubah segalanya. Tetapi seburuk apapun keputusan yang diambil oleh seorang wasit, jarang sekali yang mengakibatkan konsekuensi serius (paling-paling cuma dilempari botol oleh suporter atau dipukuli pemain.

3. Kehidupan keras seorang pegulat sumo

Walaupun berbadan ‘gemuk’, jangan dikira bahwa seorang pegulat sumo (rikishi) adalah orang yang kerjanya bermalas-malasan. Mereka menjalani latihan yang sangat keras setiap hari. Seorang rikishi menjalani kehidupan sehari-hari di sebuah tempat yang disebut ‘sumobeya’. Mereka makan, tidur, dan berlatih di tempat tersebut sepanjang karir sumo mereka.

4. Tidak ada pesumo asli Jepang yang meraih gelar Yokozuna

Yokozuna adalah tingkatan tertinggi dalam olahraga sumo (sama seperti sabuk merah pada Judo). Selama bertahun-tahun gaijin tidak diperbolehkan memegang gelar yokozuna sampai pada tahun 1993 seorang pesumo asal Hawaii bernama Chadwick Haheo Rowan (dengan nama ring Taro Akebono) menjadi gaijin pertama yang mendapatkan gelar yokozuna.

5. Tidak ada sumo wanita

Seperti halnya cabang olahraga lain dimana nomor putra selalu lebih populer daripada nomor putri (kecuali mungkin voli pantai) sumo pun juga begitu. Akan tetapi sumo lebih ‘kejam’, tidak hanya melarang wanita berpartisipasi tetapi juga melarang seorang wanita memasuki ring karena dianggap ‘mengotori’ kesucian ring. Pernah terjadi sedikit kegegeran ketika Fusae Ohta, gubernur wanita Osaka yang menjabat tahun 2000-2008, dilarang memasuki ring untuk mempersembahkan hadiah kepada pemenang.

69 recommended
0 views
bookmark icon