Meski Terkenal Dengan Hasil Karyanya, Beberapa Orang Ini Justru Menderita Depresi

Published 9 months ago -


Depresi identik dengan perasaan yang buruk dan dianggap jadi sesuatu yang bikin hidup jadi berantakan. Penderita depresi ngerasain sedih dan kehilangan minat buat ngelakuin segala hal terus-menerus. Penyebabnya bisa berbagai hal, tapi yang paling berpotensi adalah tekanan yang dihadapin, baik dari keluarga, pekerjaan, maupun cinta. Menurut Dr. John Campo dari The Ohio State University Wexner Medical Center, seperti yang dilansir Live Science, banyak pelaku bunuh diri yang mendasari perbuatannya karena bergumul sama pemikiran mereka akibat tekanan-tekanan itu.

Nyatanya, enggak selamanya depresi punya dampak negatif kayak bunuh diri. Ini udah dibuktiin sama para seniman ternama dunia yang bisa nuangin depresi yang mereka rasain jadi sebuah karya. Uniknya lagi, karya-karya mereka menginspirasi dan menghibur banyak orang, loh.

Inilah yang dilakuin oleh para seniman di bawah ini. Penasaran? Yuk, lihat cara mereka menggubah kegelapan jadi keindahan!

1. Dawid Planeta

“Welcome to the jungle of my mind!”

Kalau ngerasa mual, apakah yang sebaiknya lo lakukan? Jawabannya adalah muntahin apa yang ada di dalam perut lo supaya rasa mual itu hilang. Justru, menahan rasa mual dan berharap dia akan hilang suatu saat bakal bikin lo menderita berkepanjangan.

Hal semacam itu yang diterapin sama Dawid Planeta, seorang pelukis asal Polandia. Dilansir dari Huffington Post, Planeta ngaku bahwa dirinya mengalami depresi. Suatu hari, dia mencoba bikin serangkaian lukisan yang menggambarkan depresinya. Lukisan-lukisan ini bertema seorang cowok pembawa obor yang tersesat dalam hutan nan gelap dan bertemu dengan berbagai hewan raksasa yang mengerikan.

Yap, sosok cowok itu adalah personifikasi dirinya. Sementara itu, bayangan-bayangan hewan yang mengerikan adalah depresi yang menghantuinya. Bayangan-bayangan hewan itu enggak jelas, enggak melukai dia, tapi jelas bikin dia takut dan tertekan, persis kayak perasaan orang depresi. Seseorang yang depresi memang fisiknya enggak terluka, tapi pikiran-pikirannyalah yang terluka.

Karya cantik Planeta yang sempat jadi viral ini diunggah di laman Instagram minipeopleinthejungle dan Facebook Mini people yang digarapnya. Menurut Planeta, melukis depresi yang dialaminya membantu dia memahami depresi itu sendiri. Alhasil, tingkat depresi yang dirasainnya pun berkurang. Apakah lo penderita depresi? Coba, deh, tuangin ke bentuk gambar kayak Planeta ini!

2. J.K. Rowling

“Depression is the most unpleasant thing I have ever experienced. . . . It is that absence of being able to envisage that you will ever be cheerful again. The absence of hope. That very deadened feeling, which is so very different from feeling sad. Sad hurts but it’s a healthy feeling. It is a necessary thing to feel. Depression is very different.”

Apakah lo salah satu dari sekian banyaknya Potterhead? Membaca novel-novel Harry Potter memang bikin hati bahagia dan bikin otak kita terpacu bertualang ke mana-mana. Nonton filmnya pun asyik banget. Dijamin lo lupa waktu, deh, ngelihat keunikan peron 9 3/4, Diagon Alley, sampai Hogwarts yang legendaris. Mungkin awalnya, lo mikir bahwa penulis Harry Potter punya hidup yang berwarna dan asyik banget sampai bisa nyajiin tujuh bundel petualangan keren nan epik.

Nyatanya, hidup J.K. Rowling sebelum terkenal jauh dari itu semua, loh. Dia bukan orang yang bisa dengan mudahnya bertualang atau mengalami banyak kejadian asyik dalam hidup. Justru banyak peristiwa yang bikin Rowling jadi depresi berat. Mulai dari kematian sang nyokap saat usianya 15 tahun, perceraiannya dengan seseorang bernama Jorge Arantes yang diwarnai KDRT, sampai masa-masa sulit yang harus dia lewati bersama sang anak, Jessica, setelah pindah ke Edinburgh. Saking depresinya, Rowling pun sampai harus ngejalanin terapi. Oh, ya, dia udah nulis Harry Potter dari saat dia hamil. Novel itu pun enggak langsung diterbitin karena ditolak oleh banyak pihak.

Siapa sangka kalau pada akhirnya, Harry Potter ngejadiin Rowling seorang miliuner dan karyanya laris serta dikenal di seluruh dunia? Yap, banyak orang yang ngira bahwa hidup Rowling enak banget, dari nulis novel tujuh seri bisa jadi orang kaya. Padahal, ada cerita pahit di balik itu.

FYI, tokoh Dementor, penjaga Azkaban yang mengerikan itu merupakan wujud dari depresinya, loh! Soalnya, Dementor punya kekuatan buat menghisap kebahagiaan seseorang. Ngelihat wujudnya aja udah bikin perasaan enggak enak, ‘kan? Nah, apalagi kalau kebahagiaan lo direnggut sama sosok-sosok ini.

3. Vincent van Gogh

“Normality is a paved road: It’s comfortable to walk, but no flowers grow on it.”

Pernah lihat lukisan berjudul Starry Night? Lukisan post-impressionisme ini memang indah banget. Setiap guratannya, meskipun terkesan enggak mendetail, sukses membawakan keindahan malam berbintang kepada semua orang yang melihatnya.

Sayangnya, hati sang pelukis, Vincent Willem van Gogh, enggak seindah itu saat melukis Starry Night. Bahkan, lukisan fenomenal yang didominasi warna biru ini dilukis saat dirinya sedang dirawat di sebuah rumah sakit jiwa.

Van Gogh dilahirkan dari keluarga normal pada umumnya—memang menderita depresi dan delusi. Bukan karena masalah keluarga, tapi lebih kepada masalah cinta dan karier. Berkali-kali kisah cintanya gagal, mulai dari kepada anak pemilik kontrakannya, sepupunya sendiri Cornelia, sampai gadis bernama Maggot. Semua karena ditentang oleh orangtua.

Lukisan-lukisannya pun saat itu enggak laku karena enggak memakai warna cerah kayak tren saat itu. Pada usia 37 tahun, saking depresinya, dia menembak dirinya sendiri. Sebelumnya, Van Gogh pernah memotong telinganya sendiri setelah ribut dengan Paul Gauguin, teman sekamarnya yang juga pelukis.

Lukisan Van Gogh, termasuk Starry Night, baru terkenal setelah dia meninggal. Lukisan-lukisannya dikumpulin oleh sang adik, Theo, lalu dipublikasikan oleh Johanna Gesina, istri Theo. Rupanya, lukisan itu sangat disukai publik dan mendapatkan atensi tinggi di setiap pameran.

Kalau aja Van Gogh saat itu enggak memutuskan buat bunuh diri, mungkin dia masih bisa menikmati ketenarannya. Soalnya, dia sebetulnya berbakat. Waktu jadi pasien RSJ, dia bisa menghasilkan satu lukisan per hari!

4. Charles Bukowski

“Some people never go crazy. What truly horrible lives they must lead.”

Kay Redfield Jamison, seorang profesor psikiatri di John Hopkins School of Medicine sekaligus penulis buku Touched with Fire: Manic Depressive Illness and the Artistic Temperament (1993) nyebutin bahwa profesi penulis rawan sama depresi. Soalnya, menulis adalah pekerjaan yang soliter. Buat jadi penulis, lo harus bisa memahami berbagai jenis perasaan, termasuk yang paling buruk.

Meski enggak semua penulis ngalamin depresi, Charles Bukowski, adalah salah satu yang ngerasain perasaan terburuk itu. Kalau pernah baca karya-karya penulis keturunan Jerman-Amerika Serikat ini, lo pasti langsung setuju bahwa semua karyanya punya suasana suram. Maklum, dia selalu terinspirasi dari masalah sosial seperti ketergantungan alkohol, kemiskinan, pelacuran, dan tentu aja, penyakit bipolar yang diidapnya. Selain suram, karyanya pun sering disebut vulgar. Soalnya, dia menyampaikan cerita-cerita tentang kehidupan malam dengan apa adanya.

Salah satu karya terbaiknya berjudul Screams from the Balcony. Karya ini berisi curahan hatinya dalam bentuk surat, saat dia masih bekerja di sebuah kantor pos dan berusaha buat nembus penerbit. Iya, sama layak Rowling (dan hampir semua penulis sukses di dunia ini), Bukowski juga berkali-kali ditolak. Akhirnya, karya ini mendapatkan sambutan bagus karena mampu menyampaikan apa yang ada di dalam pikiran seorang penderita depresi yang juga mengidap bipolar.

Sebenarnya, penyebab depresi Bukowski bukan penolakan dari penerbit yang terus-terusan diterimanya, melainkan masalah sosial. Dia kecewa dan ngerasa sedih saat ngelihat banyak masalah di sekitarnya. Mungkin menuangkannya dalam tulisan pun enggak cukup buat bikin dia lega.

5. Martin Scorsese

“If I’m not complaining, I’m not having a good time, hah hah!”

Sejak kecil, Martin Scorsese mengidap asma akut yang membuat dia enggak bisa beraktivitas optimal layaknya anak seumuran dia. Untuk itu, dia jadi sering ngabisin waktu buat nonton bioskop sama orangtuanya. Kebiasaan ini jadi penawar kesepian dia sekaligus menginspirasi dia buat jadi sutradara andal.

Hanya aja, kesepiannya dari kecil bikin dia mudah depresi serta punya kepercayaan diri rendah. Buat mendongkrak rasa percaya dirinya, dia berkenalan sama ekstasi. Dia, sih, sempat berpikir bahwa ekstasi bikin idenya ngalir lancar dan dia bisa dengan pede ngarahin orang dalam film sehingga terciptalah film kece ala Scorsese yang legendaris. Misalnya Taxi Driver (1976).

Walaupun gelap, film ini sukses menyampaikan masslah sosial lewat tokoh sopir taksi yang juga mantan marinir perang Vietnam dan seorang pelacur yang masih di bawah umur. Bahkan, film ini bikin John Hinckley Jr. terobsesi berat sama Jodie Foster, pemeran pelacur tersebut. Dia pun berupaya membunuh Ronald Reagan, Presiden Amerika Serikat saat itu, demi menarik perhatian Foster.

Pada 1978, Scorsese enggak sadar diri karena zat kokaina itu bercampur dengan obat asmanya lalu ngerusak kinerja tubuhnya. Setelah itu, dia sadar kokaina memang enggak baik meskipun masih berpikir bahwa kepercayaan dirinya bisa ditimbulin dengan zat berbahaya itu.

Meskipun sosoknya ketergantungan, keindahan Taxi Driver dan Raging Bull (1980) arahan sutradara Italia ini bukan disebabkan kokaina. Kokaina cuma munculin euforia dan rasa percaya diri sementara. Dua film ini sukses sebagai film angst yang karena sejak kecil Scorsese ngerasa kesepian dan sering berkontemplasi. Hal ini bikin dua film tersebut punya cerita yang dalam.

Dari kisah lima seniman di atas, kita bisa lihat bahwa depresi yang menyiksa penderitanya bisa dituang jadi sebuah karya yang menghibur orang lain. Ironis, ya? Nah, apakah lo termasuk yang menderita depresi? Kalau iya, coba aja bikin karya sesuai hobi lo. Enggak cuma ngurangin depresi, loh. Lo bisa jadi sosok yang menginspirasi dan menyelamatkan para penderita depresi lainnya buat berkarya juga.

50 recommended
0 views
bookmark icon