Inilah Permainan Tradisional Indoneisa Yang Hampir Punah

Published 2 weeks ago -


Indonesia adalah negara yang memiliki beragam budaya, bahasa, dan agama, tidak hanya itu Indonesia juga adalah negara dengan alam yang menabjubkan beserta rempah-rempah maupun fauna dan flora. Permainan tradisional Indonesia termasuk kedalam ciri khas tersendiri dibandingkan negara lain, Indonesia sendiri memiliki permainan tradisional dari berbagai daerah dengan jumlah yang tidak sedikit. Tapi seiring dengan kemajuan teknologi permainan tradisional sedikit demi sedikit mulai punah dan jangan dimainkan lagi.

Permainan ini menjadi kenangan indah bagi kamu yang lahir di tahun 90 an. Untuk mengenang dan membangkitkan permainan tradisional agar terus bisa dimainkan oleh anak-anak sekarang, akan kita bahas bersama permainan tradisional yang satu ini. Berikut daftar permainan jadu ala anak Indonesia

Permainan-Permainan Tradisional Indonesia

!. Congklak

Congklak merupakan permainan yang sudah sejak lama berkembang di Asia, khususnya di kawasan Melayu. Di Jawa, nama ‘congklak’ lebih sering disebut dengan ‘Dhakon’. Menurut sejarahnya, permainan congklak dibawa pertama kali oleh warga Arab yang waktu itu sedang hijrah ke Asia untuk berdagang dan berdakwah.

Cara bermain congklak yang pertama adalah tiap-tiap lubang diisi dengan tujuh buah biji-bijian. Kecuali induk lubang, tiap induk lubang harus dikosongkan karena jumlah biji anak akan terlindungi setelah diletakkan dalam induk lubang. Salah satu pemain boleh menembak jumlah biji lawan. Yang terpenting perkirakan jumlah biji yang akan dijalankan sehingga anak biji berhenti di lubang milik sendiri, setelah itu mengenai anak biji milik lawan. Kalau sasaran tepat, maka pemain berhak mengambil isi biji lawan pada lubang yang sudah ‘tertembak’ itu. Permainan selesai jika diantara kedua pemain yang tiap-tiap lubang sudah kosong. Itu tandanya permainan selesai. Lebih dari soal strategi, dalam bermain congklak juga dibutuhkan kejujuran. Jika salah satu diantara pemain yang curang, maka hasil tidak akan sama dengan yang diperkirakan.

2. Permainan Tradisional Lompat Tali

Permainan yang kedua adalah lompat tali. Lompat tali ini bisa menggunakan karet atau tali tambang. Kita bisa membuat tali sendiri dengan karet, caranya menyambungkan satu persatu karet hingga panjang dan setelah itu diikat ujungnya dan karet tersebut bisa kita gunakan untuk memainkan lompat tali. Permainan ini bisa dilakukan dua orang hingga lebih dari sepuluh. Ada dua orang yang memegang tali agar tidak putus.

Tapi jika tidak ingin memegang tali maka kita bisa mengikatkan tali dengan pohon atau apapun yang bisa untuk memegang tali ataupun karet. Cara bermainnya dimulai dari tali di letakkan paling bawah lalu kita melompat. Jika tidak bisa melompat maka kita harus menunggu giliran terakhir dan mengulang lompatan dari awal. Setelah itu tali diarahkan sampai atas kepala, dan kita harus melompat diatas tali. Yang menang boleh menyuruh yang kalah untuk melakukan apa saja tetapi tidak boleh yang berat dan aneh-aneh.

3. Engklek

Permainan tradisional yang satu ini banyak dimainkan oleh anak-anak perempuan. Engklek yang di beberapa daerah juga disebut dengan ‘sunda manda’ ini memiliki nama asli ‘Zondag Maandag’ yang merupakan bahasa Belanda. Dari namanya terlihat cukup jelas sejarah engklek. Permainan engklek mulai masuk ke negara Indonesia melalui Belanda pada saat Belanda masih menjajah Indonesia.

Lalu bagaimana cara untuk memainkannya? Engklek dimainkan secara bergantian di atas sebidang tanah, lantai, atau halaman paving yang digambar kotak-kotak. Para pemain akan membuat undian untuk urutan pemain. Pemain pertama harus melemparkan pecahan genting ke kotak pertama yang terdekat. Setelah itu, ia harus melompat-lompat ke semua kotak secara berurutan hanya degan menggunakan 1 kaki. Ketika satu kaki lebih kuat dipakai untuk meloncat, kaki yang lainnya harus diangkat dan tidak diperbolehkan untuk menyentuh ke tanah. Pemain yang sedang dapat giliran bermain juga dilarang untuk menyentuh atau menginjak garis pembatas. Manfaat dari permainan ini selain menambah keakraban dengan teman-teman, juga bisa melatih konsentrasi dan sikap hati-hati.

4. Layang-Layang

“Kuambil buluh sebatang. Kupotong sama panjang. Kuraut dan kutimbang dengan benang. Kujadikan layang-layang. Bermain…berlari. Bermain layang layang. Bermain kubawa ke tanah lapang. Hati gembira dan riang…”

Sebait kalimat pendek di atas adalah lirik lagu anak-anak nasional yang mungkin sering kita nyanyikan dulu di kelas saat duduk di bangku TK atau SD kelas 1 – 2. Layang-layang adalah permainan tradisional yang bisa dimainkan dengan cara menerbangkan sebuah benda yang terbuat dari bahan kertas, benang, dan bambu. Caranya adalah kertas itu digunting dengan berbentuk tertentu, kemudian diikatkan oleh benang.

Menurut sejarahnya, permainan layang-layang ini berasal dari daratan Tiongkok sekitar 500 tahun sebelum masehi. Tapi ada juga seorang peneliti yang menyebutkan bahwa daerah asal dari permainan ini adalah berasal dari Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Ayo lestarikan permainan tradisional ini yang konon ini asli dari Bangsa Indonesia.

Yang pasti, permainan ini tidak kalah menarik dengan permainan berbasis teknologi yang ada pada gadget. Ketika dimainkan bersama-sama oleh anak-anak, permainan ini banyak manfaatnya. Selain melatih motorik, bermain layang-layang juga menjadikan badan lebh sehat karena terus bergerak.

5. Bebentengan

Bebentengan adalah permainan yang cukup filosofis karena penuh nilai-nilai perjuangan. Lahirnya istilah bebentengan untuk sebutan permainan tradisional ini merupakan analogi dari benteng yang dibangun pada masa perjuangan melawan penjajah.

Permainan bebentengan mempunyai keterkaitan dengan kehidupan masyarakat Indonesia pada zaman penjajahan Belanda. Bebentengan berasal dari kata ‘benteng’ atau pertahanan. Kata bebentengan adalah Dwipurwa (pengulangan suku kata pertama) dengan memakai akhiran an yang artinya menyerupai atau berbuat seperti sebenarnya. Makna dari permainan ini adalah meningkatkan pemahaman anak-anak tentang strategi pertahanan Indonesia terhadap serangan penjajah Belanda.

Untuk bisa melakukan permainan bebentengan, kita membutuhkan tempat datar, kosong, dan cukup luas, serta jumlah pemain yang cukup banyak. Anak-anak yang akan bermain bebentengan, dibagi menjadi dua kelompok yang sama rata. Kedua kelompok tersebut membuat ‘markas’ atau ‘kubu’ bentengnya saling saling berjauhan. Satu kelompok bisa memenangkan permainan ketika salah satu pemain bisa berhasil menyentuh benteng lawan tanpa disentuh oleh lawan yang mempertahankan benteng yang diserang. Yang pasti, permainan ini juga mengandalkan kerjasama tim.

Itulah macam – macam permainan tradisional Indonesia yang saat in hampir punah. Permainan yang memiliki banyak manfaat terhadap perkembangan mentoring dan kekuatan tubuh di bandingkan dengan permainan yang hanya menggunakan jari untuk bermainnya sangat jauh berbeda.

2 recommended
0 views
bookmark icon