Kafosampu, Tradisi Pingitan Suku Muna Untuk Menanamkan Pendidikan Karakter

Published 2 years ago -


Setiap daerah tentu lahir dengan berbagai ragam kebudayaan dan keunikannya masing-masing. Contohnya saja seperti Sulawesi Tenggara yang merupakan kawasan wilayah Indonesia yang memiliki potensi budaya dari ragam etnik atau suku yang ada, diantaranya Muna, Bugis, Buton dan Tolaki.

Masing-masing daerah tersebut membawa karakteristik budaya yang unggul dan berbeda dengan etnik lain ditiap daerah, seperti suku Muna yang memiliki tradisi pingitan bagi setiap gadis yang telah memasuki usia remaja, yaitu tradisi Kafosampu.

Sejumlah gadis berusia belia dan remeja dengan berpakaian adat akan diarak dengan menggunakan tandu yang digotong oleh sejumlah laki-laki dewasa yang diiringi oleh para orang tua. Itulah salah satu prosesi tradisi Kariaa yang dinamakan Kafosampu yang ditampilkan dalam Wakatobi Wonderful Festival and Expo di lapangan Merdeka, Wangi-wangi Wakatobi.

Asal Usul Adat Istiadat Suku Muna

Kata Muna berasal dari kata “Wuna” yang artinya “Bunga”. Sebutan nama Wuna berdasarkan pada penemuan “Kontu kowuna” (batu berbunga) yang terletak di kota Wuna, yaitu 22 km sebelah selatan kota Raha Ibu kota kabupaten Muna.

Batu tersebut berbentuk kecurut, besarnya seperti sebuah rumah dengan tinggi 7 m dari permukaan tanah. Bagian sekelilingnya sampai permukaan bagian atas ditumbuhi semacam bungan berwarna putih dan berumpun dan sangat indah tampaknya. Itulah sebabnya Pulau Muna biasa disebut juga “Witeno Wuna” artinya “Tanah Muna”.

Ketika Belanda mulai menanamkan pengaruh kekuasaannya di Muna tahun 1906 sebutan Wuna diganti dengan Muna yang disesuaikan dengan ucapan atau lidah orang Belanda, dimana sebutan konsonan W menjadi M.

Sejak itulah sebutan Muna menjadi populer dan secara umum digunakan oleh masyarakat, terutama orang asing atau yang berasal dari luar daerah Muna. Walaupun demikian penduduk asli Pulau Muna, sebutan Wuna tidak hilang, melainkan tetap digunakan dalam percakapan sehari-hari terutama sesame orang Muna.

Nilai-nilai budaya suatu bangsa merupakan khasanah kekayaan bangsa atau daerah. Indonesia sebagai bangsa memiliki potensi kaenekaragaman budaya. Salah satunya adalah budaya masyarakat Muna. Budaya Muna sebagai objek akan menjadi lemah apabila proses pewarisannya hanya dilakukan melalui penuturan cerita, pandengaran dan pandangan mata.

Oleh karena itu budaya muna tidak harus hanya sebatas cerita tetapi dapat dibaca dalam dokumen, hal ini akan menjadi solusi terbaik untuk menjaga degradasi nilai-nilai budaya masyarakat Muna. Ada beberapa macam jenis budaya yang digunakan dalam masyrakat Muna salah satunya adalah ‘Upacara Adat Kariya’.

Kariya adalah upacara adat bagi masyarakat Muna yang pertama diadakan pada masa pemerintahan Raja La Ode Husain yang bergelar Ompute Sangia terhadap putrinya yang bernama Wa Ode Kamomo Kamba. Menurut kaidah bahasa Muna bahwa karia berasal dari kata ‘kari’ yang artinya: (1) sikat atau pembersih: (2)penuh atau sesak.

Pemaknaan dari simbolik nokari atau penuh bahwa perempuan yang dikariya telah penuh pemahamannya terhadap materi yang disampaikan oleh pemangku adat atau toko agama, khususnya seluk beluk yang berkaitan dengan rumah tangga. Sedangkan makna secara kongkrit bahwa kata kariya (Muna) berarti ribut atau keributan dan kariya adalah ramai atau keramaian.

Kariya sebagai upacara peresmian atau pelantikan erupakan proses kejadian manusia dari suatu tahapan kehidupan ketahapan berikutnya dikenal dengan kronologi Insiasi. Istilah ini berasal dari bahasa latin “Initiatio” dalam bahasa Perancis disebut “rites de passage” dan dalam bahasa Inggris di sebut “Crisis rites”.

Indikator yang menguatkan bahwa kariya sebagai upacara peresmian atau pelantikan ditandai dengan model pakaian yang dikenakan oleh peserta kariya. Pada bagian kepala disematkan Panto (Mahkota) bagaikan putri ratu yang telah dilantik sebagai raja disebuah kerajaan. Oleh karena itu ciri khas pakaian perempuan yang dikariya menunjukan ciri khas pakaian kebesaran sesuai dengan golongan sosialnya masing-masing, misalnya Kaomu, Walaka dan Maradhika.

Tradisi Dilakukan Untuk Menanamkan Pendidikan Karakter

Dalam adat suku Muna, setiap anak perempuan yang akan memasuki usia remaja diwajibkan untuk menjalani tradisi pingitan (Karia) selama empat hari empat malam, dua hari dua malam, atau sehari semalam tergantung kesepakatan antara penyelenggara karia dengan tetua adat (pomantoto), atau disesuaikan dengan tingkat sosial atau kasta dalam masyarakat Muna.

Menjadi tanggung jawab bagi setiap orang tua di Muna untuk mendidik anak perempuan mereka dengan pengetahuan dasar sebelum memasuki masa dewasa dan kehidupan berumah tangga. Seperti dalam sebuah ungkapan filosofi orang tua Muna “kadekiho polambu, ane paeho omandehao kofatawalahae ghabu” yang berarti jangan engkau menikah, sebelum engkau memahami empat penjuru atau sisi dapur.

Budaya karia tidak hanya terbatas pada proses dan konsep urutan-urutan pelak-sanaannya tetapi yang paling penting adalah bagaimana pemahaman dan pendalaman nilai-nilai dari setiap sesi kegiatan dan simbol-simbol yang ada di dalamnya.

Karia dalam pengertian “kari” yang artinya sikat atau alat pembersih mengandung pengertian secara filosofi yaitu merupakan proses pembersihan diri seorang perempuan menjelang dewasa atau peralihan dari remaja ke dewasa. Proses ini dilakukan dengan harapan bahwa seorang wanita ketika telah disyarati dengan ritual karia maka dianggap lengkaplah proses pembersihan diri secara hakiki.

Berdasarkan filosofi adat Muna bahwa ritual karia sebagai proses pembersihan diri, maka, ritual ini sejalan dengan konsep pendidikan seumur hidup (long life education). Hal ini dapat dilihat dalam proses upacara karia bahwa pelaksanaannya bukan hanya sekedar upacara ritual tetapi merupakan proses pembinaan mental, moral agama dan perilaku agar kelak memperoleh benih-benih keturunan yang berakhlak mulia.

Prosesi Tradisi

Ritual yang dilakukan ini selain sebagai proses pembersihan diri, juga merupakan bagian dari pendidikan kaum perempuan dalam menghadapi bahtera kehidupan berkeluarga. Berikut prosesi pelaksanaan karia yang terdiri dari beberapa prosesi yakni:

Kafoluku

Kafoluku yaitu peserta yang dimasukkan dalam tempat yang telah dikemas khusus rewmapt karia yang disebut suo khusus bagi putri-putri raja dan songi untuk golongan masyarakat umum. Prosesnya adalah sebagai berikut:

  • Pembacaan doa oleh imam Kota Muna yang disertai dengan dulang.
  • Dimandikan dengan air yang telah dibacakan doa oleh imam air terdiri atas dua tempat yaitu oe modaino dan oe metaano.
  • Perangakat yang dimasukkan ke dalam kaghombo atau pingitan yaitu :
    1. Dua buah palangga (tempat yang dibuat dari lidi pohon aren dalam bentuk anyaman)
    2. Padjamara (lampu tradisional Muna) yang tidak dinyalakan
    3. Polulu (kampak) Kandole
    4. Bongsano Bea (kuncup bunga pinang dan kuncup bunga kelapa
    5. Jagung dan umbi-umbian yang merupakan simbolik kehidupan
    6. Kapas dan benang swebagai bahan sarung
    7. Anyaman daun kelapa yang masih muda (Bhale)
    8. Tikar yang terbuat dari daun agel (Ponda bale)
    9. Kain putih sebagai alas tikar ponda bhale merupakan symbol kesucian
    10Posisi peserta berdasarkan urutan paling kanan adalah peserta dari anak yang mempunyai hajatan acara dan selankutnya disusul oleh peserta yang lain.

Proses Kabansule

Ini adalah suatu proses perubahan posisi yang dipingit. Awalnya posisis kepala sebelah barat dengan baring menindis kanan selanjutnya posisinya dibalik kearah timur, ke dua tangan kanan di bawah kepala tindis kiri. Filosofi dari proses ini adalah perpindahan dari alam Arwah kea lam Aj’san. Kondisi ini konon katanya diibaratkan pada posisi bayi yang masih berada dalam kandungan yang senantiasa bergerak dan berpindah arah. Mengawali proses perpindahan itu ada kegiatan yang dilakukan oleh para peserta yaitu:

Semua peserta kariya dikelilingkan lampu padjamara dan cermin ke kiri dan ke kanan, ini isyrat bahwa ke depan peserta kariya diharapkan mendapatkan kehidupan yang terang benderangsedangkan cermin adalah symbol kesungguhan dan keseriusan dalam menghadapi tangtangan hidup dimasa depan. Acara rebut ketupat dan telur yang diambil dari belakang masing-masing dengan tidak ada batas jumlahnya untuk dimakan.

Kalempagi

Prosesi ini diawali dengan proses debhalengka yaitu membuka pintu kaghombo (pingitan). Secara filosofi kalempagi berarti pelampauan atau melewati yaitu proses peralihan dari remaja ke usia dewasa. Oleh karena itu menurut tradisi di Muna bahwa yang dikaria harus usia remaja yang menjelang dewasa.

Kafosampu

(Pemindahan peserta karia dari rumah ke panggung) Pada hari keempat menjelang maghrib, para gadis pingitan siap dikeluarkan dari rumah atau ruang pingitan ke tempat tertentu yang disebut bhawono koruma (panggung). Pada waktu mereka diantar ke panggung tidak boleh menginjak atau menyentuh tanah.

Gadis-gadis yang mendampingi peserta karia harus yang masih hidup kedua orang tuanya. Mereka bertugas memegang sulutaru, yaitu semacam pohon terang yang terbuat dari kertas warna-warni dan di puncaknya dipasangkan lilin yang menyala. Pengertian lain dari sulutaru adalah merupakan isyarat, harapan dari peserta karia agar ke depan memperoleh jalan hidup yang lebih cerah. Oleh karena itu, nyala lilin di puncak sulutaru menjadi simbol masa depannya.

Katandano Wite

Ini adalah langkah keempat dalam proses karia. Katandano wite yaitu sentuhan tanah pada ubun-ubun, dahiKahapui (Membersihkan); Esok harinya setelah acara kafosampu diadakanlah acara kahapui, yaitu acara ritual pemotongan pisang yang telah ditanam atau disiapkan di depan rumah penyelenggara acara karia. Pemaknaan pohon pisang dalam proses ini merupakan simbol bahwa kehidupan pisang yang silih berganti, bila dipotong satu maka akan tumbuh yang lain sebagai penggantinya.

Linda

Setelah rangkaian acara selesai maka pomantoto atau pemandu melakukan tari linda sebagai pendahuluan yang kemudian disusul oleh peserta karia secara berurutan yang dimulai dari putri tuan rumah dan seterusnya disusul oleh peserta yang lain secara bergiliran berdasarkan urutan duduknya.

Kahapui

Esok harinya setelah acara kafosampu diadakanlah acara kahapui, yaitu acara ritual pemotongan pisang yang telah ditanam atau disiapkan di depan rumah penyelenggara acara karia. Pemaknaan pohon pisang dalam proses ini merupakan simbol bahwa kehidupan pisang yang silih berganti, bila dipotong satu maka akan tumbuh yang lain sebagai penggantinya.

Kaghorono Bhansa

Ini merupakan sebagai penutup dari rangkaian acara upacara karia adalah kaghorono bhansa. Pada acara ini, bhansa atau mayang pinang yang dipakai untuk memukul-mukulkan badan peserta karia dihanyutkan ke dalam sungai. Filosofi dari acara ini adalah melepaskan segala etika buruk yang ada pada peserta karia.

Kaghoro Bhansa oleh sebagian orang tua di Muna dijadikan isyarat jodoh, nasib, dan takdir peserta karia. Misalnya, pada saat dilakukan kaghoro bhansa, kondisi mayang pinang ada yang tenggelam, terapung, dan ada pula yang hanyut terbawa air. Berdasarkan pemaknaan orang tua bahwa kondisi mayang pinang berkaitan dengan masa depan peserta karia baik jodoh maupun rezeki tetapi itu hanya sebatas praduga dan kebenarannya tidak dapat dipastikan.

Sekianlah informasi mengenai tradisi pingitan suku Muna, semoaga dapat bermanfaat dan berguna.

89 recommended
0 views
bookmark icon