Jeffrey Dahmer Pemerkosa, Pembunuh Dan Kanibal Terkejam Di Dunia

Published 9 months ago -


Pemerkosaan merupakan kegiatan kriminal yang sering terjadi di Dunia ini. Sudah banyak sekali kasus pemerkosaan yang terjadi di dunia dan pastinya Indonesia sebagai Negara dengan pelaku criminal yang terbilang tidak sedikit tidak terlepas dari yang namanya pemerkosaan dalam kasus yang terjadi di Negara kita. Bahkan, tidak sedikit di Dunia yang memeliki predikat pemerkosa terkejam di Dunia. Perlu Anda ketahui, pemerkosaan adalah plecehan seksual terhadap seseorang yang melangggar HAM. Hal criminal ini sering dialami oleh Wanita karena Laki-laki lah yang menjadi pelaku utama dalam kasus kejam ini. Di Dunia, pelaku pemerkosaan begitu banyak ragam, motif serta latar belakang sang pelaku yang beragam. Mulai dari terror, terang-terang-an, penculikan, bahkan hingga pemerkosaan terkejam di Dunia banyak dilakukan oleh orang-orang tak bertanggung jawab tersebut.

Jika membahas tentang pemerkosa terkejam, pasti kalian yang suka membaca berita dalam maupun luar negeri dengan kasus pemerkosaan pasti sudah tidak asing lagi dengan pria yang bernama Jeffrey Dahmer. Jeffrey Dahmer telah di beri predikat sebagai pemerkosa terkejam di dunia. Bagaimana tidak, akibat perilaku nya yang tidak manusiawi tersebut telah banyak korban jiwa yang kehilangan nyawa nya. Jeffrey Dahmer tidak hanya seorang pemerkosa saja, namun dia juga seorang kanibal yang kejam.

Jeffrey Dahmer “Pembunuh Tersadis”

Jeffrey Dahmer, buruh pabrik coklat membunuh secara berturut-turut 15 pemuda sejak tahun 1988. Semuanya pemuda homoseks dan kebanyakan berkulit hitam. Tapi kejahatannya tak cuma ini. Dahmer melakukan pula kekejian yang sulit dibayangkan manusia normal; meneyetubuhi mayat korban, mencincang, dan memekana dagingnya. Namun, psikolog memberi berkesimpulan pembunuh sinting itu melakukannya perbuatannya dengan pikiran waras. Dahmer, tinggi 175 cm, tegap dan berambut ikal, memang bagaikan tokoh film horor yang menjadi kenyataan. Dilemari es di dapur tempat tinggalnya, di West Allis, daerah pinggiran Milwaukee, ia menyimpan dua jantung orang dan tiga kepala manusia. Di dapur itu ada sebuah gentong besar berwarna biru tempat melarutkan daging manusia dan sebuah panci untuk merebus kepala agar gampang dikuliti.

Normalkah Dahmer? Lima psikiater, dua psikolog, dan dua detektif polisi dikerahkan untuk mengungkap latar belakang kejiwaan Dahmer. Mereka secara bersama mewawancarai Dahmer selama 130 jam. Hasilnya diungkapkan dalam, sanity trial, sidang untuk membuktikan tingkat kewarasan pelaku kejahatan. Sidang inilah yang menentukan apakah Dahmer dihukum atau dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa, yang memungkingkan ia suatu waktu bebas. Dua psikiater berpendapat nekrofilia dan memakan orang adalah bukti sakit mental yang mendorongnya untuk melakukan pembunuhan. Ini pula inti pembelaan Gerald Boyle, penasihat hukum Dahmer yang bertugas membela terdakwa. Tindakan menyetubuhi mayat dan memakan daging sesama hanya dapat dilakukan oleh orang sakit jiwa,“ kata pembela. Tapi dikubu lain Dr. George Palermo yakin bahwa Dahmer seorang yang kompulsif, anti sosial yang membunuh karena desakan nafsu birahi. Tapi ia tidak gila.

Pernyataan ini diperkuat seorang jaksa penuntut yang menyebutkan Dahmer punya perhitungan cermat. Ia, misalnya membutuhkan pil tidur untuk membuat korbannya menyerah. Normal atau tidak, Dahmer seorang manusia dari jenis yang sangat tidak biasa. Ketika ditangkap pada bulan Juli tahun 1991, Dahmer tak secuil pun menunjukkan perubahan emosi sewaktu membeberkan rangkaian kejahatannya. Ia ngomong soal membunuh orang seperti menuang air dalam gelas,“ kata wakil polisi wilayah West Allis, Robert Due. Dengan sikap ini pula ia mengisahkan semua kejadian, laporan modus operandi rangkaiannya setebal 160 halaman folio. Dahmer, yang pernah menjadi tentara, menggaet mangsa di tempat-tempat hiburan di Walker’s Point.

Kadang-kadang di pusat perbelanjaan dan halte bus. Bercelana jeans dan kaus, ia masuk ke bar, disko atau tempat mandi para gay, dan mulai mengintai mangsanya. Bila menemukan sasaran, ia mulai melempar umpan, misalnya dengan sapaan bersahabat. “Hai, saya Jeff, saya suka gaya dansamu.” Januari 1988, Dahmer mendapat mangsa empuk di tempat pemberhentian bus. James Doxtator, remaja 14 tahun. Anak tanggung ini ditawari menjadi model foto telanjang dengan iming-iming duit, Doxtator mengiyakan. Maka, ia dibawa ke apartemen Oxford 213 – tempat Dahmer bersama neneknya yang sakit-sakitan. Yang terjadi, anak itu “diperkosa”. Sesudahnya, Doxtator dipaksa menenggak minuman yang telah dicampur obat tidur. Ia pingsan. Sang iblis dari Milwaukee ini lalu menggarap korbannya yang sudah menjadi mayat secara berulang-ulang sebelum dilenyapkan dengan rapi.

Kelakuan laknat ini berhenti untuk sementara ketika ditangkap pada 1989. Bukan karena pembunuhan, tapi penganiayaan terhadap seorang anak 13 tahun. Sanksinya, ia diharuskan masuk pusat rehabilitasi Milwaukee selama 1 tahun. Setelah hukuman itu lewat, Dahmer melanjutkan serial pembunuhannya. Kali ini mangsanya agak tua, Raymond Smith 32 tahun dan Edward Smith 27 tahun. (Tak dijelaskan apakah kedua Smith punya hubungan keluarga). Serial pembunuhan ini berlangsung terus sampai mencapai 15 orang. Sebenarnya ia membunuh 17 pria. Dalam peradilan di Milwaukee, hanya 15 kasus yang diadili. Pembunuhan yang dilakukannya di Milwaukee terjadi pada tahun 1988 sampai 1991.

Dua pembunuhan itu terjadi sebelum 1988, pada masa remajanya di Negara Bagian Ohio. Dahmer punya cara pelenyapan mayat yang sistematis. Dimulai dengan memperkecil ukuran lewat pemotongan (mutilasi), lalu merendamnya dalam larutan asam untuk melunakkan tulang-tulangnya. Setelah itu, Dahmer tinggal memasukkan “sampah” ke dalam toilet, dan bagian-bagian manusia ini lenyap seperti kotoran di lubang peturasan. Namun, setan-setan di otaknya seperti mendorongnya melakukan tindakan lebih keji, lebih sensasional. Dahmer mendapat gagasan untuk menyantap korbannya. Dan sedikitnya ada tiga korban yang masuk ke dalam perutnya, Mayat Oliver Lacy disetubuhi dulu untuk memuaskan desakan nekrofilia dalam dirinya, lalu dicincang, dikuliti, disantap sebelum dibuang. Berikut adalah fakta singkat mengenai kehidupan Jeffrey Dahmer dari masa kecil hingga dewasa:

Masa kecil

Dahmer lahir di West Allis, Wisconsin, dari pasangan Lionel dan Joyce Dahmer. Lionel Dahmer bekerja sebagai ahli analisa kimia. Sekitar umur 8 tahun keluargae Dahmer pindah ke Bath, Ohio dan Jeffrey Dahmer kecil sekolah di Revere High School. Sejak kecil, Dahmer sering melakukan mutilasi pada binatang-binatang yang telah mati dan menjadi pemabuk pada masa remajanya.

Masa Remaja

Pada masa remajanya, Dahmer mempunyai orientasi seks yang menyimpang dia menyukai sesama jenis homo, gay. Dahmer memulai mencari partner seks nya, dia tak segan-segan untuk membunuh dan memakan korbannya.

Masa Dewasa

Kegilaan Dahmer semakin menjadi-jadi, dia telah menjadi homoseksual. Setiap ada pesta dia selalu ikut dan membawa teman prianya ke rumah untuk melakukan hubungan seks, sesudah itu dia tak segan-segan untuk membunuhnya diperkirakan korban Dahmer adalah 23 orang dan semuanya laki-laki yang berumur sekitar 14-36 tahun. Dahmer sering melakukan mutilasi, atau mencincang tubuh korbannya. Korban pertamanya adalah seorang anak kecil yang bernama Konerak Sinthasomphone.

52 recommended
0 views
bookmark icon