Bermanfaat Atau Berbahayakah Micin Di Dalam Tubuh? Berikut Penjelasannya

Published 2 weeks ago -


Pernakah anda melihat tulisan atau status teman-teman anda di sosial media seperti facebook dan juga twitter, menuliskan kata yang katanya bahasa gaul, apalagi anak meme. Sering menuliskan kata atau istilah “Generasi micin” atau juga “Kebanyakan makan micin” ? Atau mungkin anda sering membeli dan memesan makanan di pedagang kaki lima, dan meminta di hidangkan makanan yang mengandung “sedikit micin” ? malah mungkin meminta “menambah micin” ? Sebenarnya apa sih micin itu? Apakah dia berbahaya untuk kesehatan? Berikut penjelasan mengenai micin

Apa itu Micin?

Micin atau vetsin memiliki nama ilmiah “Monosodium Glutamat” atau yang lebih dikenal dengan sebutan MSG. MSG ini dibuat dari hasil fermentasi gula-gulaan, seperti gula tebu, gula bit, gandum, dan lain sebagainya. Bahan dasar tersebut difermentasi secara khusus sehingga menghasilkan micin yang enak dan mantap jiwa jika digunakan dengan takaran yang tepat, jika micin dimakan secara langsung tentunya dapat membuat anda menjadi mual seperti orang yang sedang hamil dan juga akan membuat kepala anda menjadi pusing seperti orang yang terkena anemia. Jadi makanlah micin yang sudah diolah dengan makanan, tentunya dalam takaran yang wajar, agar anda tidak sakit atau juga merasakan dampak yang buruk bagi kesehatan tubuh anda.

Mungkin dijepang sebangsa Micin, lebih dikenal dengan sebutan umami. Micin atau MSG ini dimitoskan dapat membuat kebodohan jika dimakan secara brutal dan overdosis, benarkah itu adanya? Lalu, dari manakah asal makanan itu? Apakah dari Indonesia atau dari luar Indonesia?

Sejarah adanya Micin

MSG dikenal sebagai penambah rasa gurih masakan. MSG atau Mono Sodium Glutamat / vetsin / micin pertama kali dikenal publik sekitar tahun 1909. MSG pertama kali di produksi secara masal oleh perusahaan Ajinomoto. Setelah dikenal masyarakat luas maka bermunculan merk merk lain yang memproduksi MSG.

Siapakah orang yang menciptakan MSG / Vetsin / Micin? Asal usul MSG bermula dari sebuah penelitian Prof. Kikunae Ikeda di tahun 1908 yang menemukan bahwa glutamat sumber rasa gurih. Glutamat didapat dari kaldu rumput laut berjenis kombu. Kemudian satu tahun berikutnya Saburosuke Suzuki mengkomersialkan glutamat yang diisolasi oleh Ikeda tersebut.

Kandungan MSG terdiri atas 78% glutamat, 12% Natrium dan 10% air. Kandungan glutamat inilah yang menyebabkan rasa gurih. Sebenarnya glutamat ini merupakan kelompok dari asam amino non esenial penyusun protein yang juga dapat di temui pada makanan lainnya seperti daging, keju, susu bahkan ASI. Perlu kita ketahui juga pada tubuh kita pun juga mengandung glutamat.

Glutamat dari MSG atau dari sumber makanan lainnya dapat diterima baik oleh tubuh yang juga digunakan untuk sumber energi pada usus halus. Senyawa ini sebenarnya adalah gabungan dari sodium/natrium (garam), asam amino glutamate dan air.

MSG seperti yang kita kenal saat ini terbuat dari tetes tebu atau singkong, bukan dari rumput laut seperti sejarahnya dahulu karena keterbatasan rumput laut. Kemudian dari bahan tersebut di lakukan fermentasi. Proses fermentasi tetes tebu ini dilakukan oleh bakteri Brevi bacterium lactofermentum yang pada akhirnya menghasilkan asam glutamat. Dari sini masih belum selesai prosesnya. Setelah itu proses selanjutnya adalah memberikan tambahan garam sehingga terjadi pengkristalan dan membentuk kristal yang berwarna putih. Pada awal tahun 1990an, glutamat yang digunakan untuk membuat MSG dihasilkan dengan cara mengekstrak glutamat dari tumbuhan. Saat ini, MSG dihasilkan dengan cara ekstraksi dari fermentasi alami tumbuhan-tumbuhan, seperti lobak, tebu, dan gandum.

Fungsi dan Dosis MSG

Saat ini, MSG udah secara luas digunakan sebagai penyedap makanan di dunia, mulai makanan instan seperti chicken nugget, baso, sup-sup kalengan sampai makanan ringan seperti yang ada warung-warung gitu. Kayaknya makanan kaanda kena MSG, rasanya jadi lebih “nendang”.

Tapi kenapa MSG bisa bikin makanan jadi enak? MSG bekerja dengan memperkuat rasa alami dari berbagai makanan, seperti daging, ikan, sayur, dll. Nah, MSG ini bisa memperkuat rasa karena glutamatnya! Rasa “gurih” yang dihasilkan MSG itu ternyata bukan berasal dari “tipe” rasa yang udah umum kita kenal, seperti manis, asam, asin, pahit (pedes bukan rasa ya). Rasa enak dari MSG ini punya tipe rasa lain. Lidah manusia punya reseptor tersendiri untuk rasa gurih dari Glutamat. Orang-orang Jepang menyebut rasa gurih ini dengan rasa “umami”. Orang Barat mendeskripsikan rasa ini sebagai gurih, seperti pada kaldu atau daging.

Orang Amerika dan Eropa rata-rata mengkonsumsi sekitar 11 gram glutamat alami dan 1 gram glutamat dari MSG per harinya. Untuk negara-negara Asia, jumlah konsumsi glutamat dari MSG jauh lebih tinggi, yaitu sekirar 3-4 gram per hari. Kenapa konsumsi MSG orang Asia jauh lebih tinggi? Bahan dan bumbu makanan orang Asia seperti soy sauce, kecap ikan atau kecap wijen emang lebih banyak mengandung glutamat alami sehingga orang Asia udah terbiasa dengan konsumsi glutamat sejak kecil.

Efeknya, toleransi tubuh orang Asia terhadap glutamat relatif jadi lebih tinggi dari orang Eropa pada umumnya. Makanya konsumsi MSG orang Asia lebih tinggi. Dosis MSG yang direkomendasikan (batas aman banget deh) oleh U.S Food and Drug Administration (FDA) adalah sekitar 30 miligram per berat badan. Misalnya, berat badan anda 50kg, maka dosis MSG yang direkomendasikan adalah sekitar 1,5 gram/hari.

Gimana tubuh kita merespon MSG?

Menurut U.S Food and Drug Administration (FDA), MSG yang kita makan bakal dipecah oleh sistem pencernaan menjadi sodium/natrium (Na) dan Glutamat. Kedua bahan ini bakalan bernasib sama dengan Na alami dan glutamat alami. Na bakalan jadi ion yang terlibat dalam berbagai macam proses di tubuh.

Terus glutamatnya gimana? 95% glutamat yang dikonsumsi akan dimetabolisme oleh sel-sel usus halus dan bakal dijadiin buat energi untuk menjalankan pencernaan di usus halus itu sendiri. Sisa 5%-nya bakalan berguna buat membentuk protein (seperti yang udah sempat jelasin di atas) atau dijadikan prekursor untuk menghasilkan senyawa-senyawa lain, seperti glutathione, arginine dan proline. Buat yang belum tau, prekursor adalah zat atau bahan pemula untuk memulai proses biosintesis.

Terus misalnya kelebihan Na atau Glutamat di dalam tubuh gimana? Ya keluarin aja lewat urin. Tubuh kita sering kok mengeluarkan kelebihan glutamat melalui urine. Walaupun merupakan asam amino non esensial, tubuh cukup cepat menggantikan glutamat (laju penggantian glutamat yang hilang dari tubuh/turnover termasuk besar, yaitu sekitar 30%).

Jadi MSG aman ga sih?

Menurut FDA sih, MSG dikategorikan sebagai zat yang cukup aman dikonsumsi. Tapi tetap harus diingat “aman” menurut FDA itu ya kaanda dosisnya sesuai dengan rekomendasi mereka. Kalau lebih-lebih ya tetep bisa bahaya. Toh, kalau anda makan garam dapur atau bahkan air yang super kebanyakan juga bisa berakibat fatal kan (kebanyakan minum air, bisa berakibat hyponatremia). Lalu kalau MSG aman, kenapa banyak stigma negatif seputar MSG? Oke deh, kita langsung luruskan aja faktanya.

1. Kenapa MSG bikin pusing dan mual?

Mungkin saat baca paparan di atas anda akan bilang kalau artikel ini “ngaco deh mana mungkin MSG itu aman, lah saya abis makan banyak MSG, jadi pusing-pusing dan mual”. Efek pusing dan mual yang anda rasakan sehabis makan MSG dialami banyak orang kok. Efek ini disebut sebagai Chinese Restaurant Syndrome (CRS).

Istilah CRS muncul pertama kali pada sekitar tahun 1968. Saat itu, Dr. Robert Ho Man Kwok menyebut kumpulan gejala mual, pusing, lemas dll yang umum terjadi sekitar 20 menit setelah makan di restoran Chinese sebagai CRS. Mungkin sebagian dari anda udah bisa nebak kalau memang restoran-restoran Chinese itu menggunakan MSG yang relatif lebih banyak dibandingkan restoran lain (ini kejadiannya di Inggris). Jadi MSG ternyata bahaya dong? Tunggu dulu.

Setelah diadakan penelitian lebih lanjut, ternyata efek pusing dan mual habis makan MSG (chinese restaurant syndrome) ini bukan diakibatkan oleh MSG, tapi lebih tepatnya diakibatkan oleh glutamat! Lah, apa bedanya??

Jelas beda, jika CRS diakibatkan oleh glutamat, bukan MSG. Anda harus inget kalau MSG itu adalah garam penyedap rasa, sementara glutamat itu asam amino non esensial yang ada dimana-mana dan gak harus terkandung dalam MSG sebagai penyedap rasa. Artinya, kebanyakan makan keju, jagung atau kacang polong juga bisa bikin kena gejala pusing, mual akibat CRS. Jadi kalau anda mengacu lagi pada tabel kadar glutamat yang di atas, keju/jagung/kacang polong cukup banyak lho kandungan glutamatnya.

Begitu diuji, hasilnya bener. Ketika diujikan pada 2 kelompok orang: kelompok 1 diberikan makanan tanpa MSG sedangkan kelompok 2 diberikan makanan dengan tambahan MSG. Walaupun pada satu kelompok dikasih tambahan MSG dan kelompok lain tidak, diusahakan jumlah glutamat total pada makanan yang diberikan pada 2 kelompok harus sama. Jadi ya mungkin pada kelompok 1 yang tanpa MSG, mereka dibanyakin kejunya atau porsi makanannya lebih banyak.

Hasilnya gimana? Memang ada yang kena gejala CRS pada kedua kelompok, tapi sebagian besar, sih, sehat-sehat aja. Dari situ (dan riset-riset lain) diperoleh kesimpulan bahwa yang membuat seseorang yang pusing dan mual habis makan MSG (kena gejala chinese restaurant syndrome) karena memang orangnya aja yang tidak toleran terhadap glutamat berlebihan (glutamate intolerant). Biasanya mereka mulai kena CRS kalau dikasih glutamat tambahan sebesar lebih dari 3 gram. Tapi ini rata-rata aja, pasti ada orang yang lebih sensitif dan ada yang lebih toleran.

Sebagai analogi aja, kan ada juga orang yang lactose intolerant, yang ngga bisa konsumsi produk susu. Orang lactose intolerant akan mual sampe diare jika minum susu murni. Tapi, apakah susunya sendiri berbahaya? Tentu tidak. Itu hanya special case buat para lactose intolerant. Bagi orang kebanyakan, susu menawarkan banyak manfaat kesehatan, dong. Tapi kaanda kebanyakan minum susu bagi orang normal, ya ga bagus juga, bisa menyebabkan penimbunan lemak, bikin obesitas, hingga meningkatkan risiko penyakit jantung.

Nah, saya harap anda bisa menerapkan pemahaman serupa tentang MSG. Semua zat bisa berguna atau berbahaya bagi tubuh kita bergantung pada dosisnya. Untuk kasus MSG ini, anda juga harus tau apakah anda tipe orang yang toleran dengan kelebihan glutamat atau tidak. Jika kondisi biologis tubuh anda termasuk yang gak bisa toleran, tubuh anda akan merespons dengan gejala pusing dan mual setelah makan MSG berlebihan.

2. MSG bikin bodoh?

Sama seperti di organ tubuh lainnya, glutamat juga berperan dalam metabolisme energi dan protein di otak. Selain itu, glutamat memiliki fungsi lebih pada otak, yaitu sebagai neurotransmiter. Neurotransmiter berperan untuk menyampaikan sinyal-sinyal dari sel saraf ke sel target, seperti sel otot atau sel endokrin (kelenjar hormon).

Namun, kadar glutamat berlebih (banget) di otak memang dapat menyebabkan kerusakan pada otak. Pada tahun 1960, peneliti dari Washingtonbakso-soanda-2 University menemukan bahwa MSG dengan dosis sekitar 4gram/kg berat badan memiliki efek merusak jaringan otak tikus baru lahir (umur 2 sampai 9 hari) . Tapi ternyata hasil ini dianggap tidak valid untuk membuktikan MSG itu berbahaya.

Penelitian lain pada tahun 1970, Bazzano, D’Elia dan Olson melakukan penelitian pada 11 relawan dewasa. Wah penelitian pake orang beneran nih, gila kan niat bener. Setiap orang diberikan asupan glutamat sampai dengan 100gram per hari selama 42 hari. Setiap harinya, para peneliti mengawasi status kesehatan para relawan dan ngeliat efek glutamat yang diberikan ke sistem syaraf. Sampai hari ke-42, tidak ditemukan bukti bahwa MSG dapat merubah struktur maupun fungsi sistem syaraf para relawan tersebut.

Dengan demikian, anggapan yang mengatakan “MSG bikin bodoh” tidak punya landasan bukti yang valid. Dugaan saya sih, sepertinya anggapan “MSG bikin bodo” ini lahir dari kekhawatiran berlebihan ketika melihat ada orang yang pusing ketika mengkonsumsi MSG. Namun bukan berarti MSG itu tidak memiliki dampak bahaya jika anda mengkonsumsi setiap hari atau bahkan melebihkan dosis nya pada 1 hari. Berikut ini beberapa bahaya akibat anda terlalu banyak mengkonsumsi MSG.

Bahaya Makan Micin Dalam Jangka Panjang

1. Merusak Penglihatan : Penggunaan micin secara berlebihan juga dapat merusak kesehatan mata. Gejala awal biasa ditandai dengan rasa nyeri di sekitar organ mata. Selanjutnya penglihatan menjadi kabur dan sulit untuk fokus. Meskipun makanan yang mengandung micin memang terasa lebih gurih dan nikmat, mulai sekarang harus kamu kurangi ya, supaya penglihatanmu tetap sehat.

2. Tekanan Darah Tidak Normal : Makanan yang mengandung micin rupanya bisa menjadikan tekanan darah tidak normal. Tekanan darah bisa naik secara ekstrim ataupun sebaliknya. Selain itu, mengonsumsi micin secara berlebihan bisa menimbun asam glutamat di jaringan sel otak, sehingga bisa berakhir dengan kelumpuhan.

3. Memicu Sakit Jantung : Dampak MSG terhadap organ jantung seperti detak jantung tidak teratur (Aritmia), kekacauan irama jantung atau terlalu cepat (fibrilasi atrium), detak jantung lebih dari 100 kali per menit (tachycardia), ataupun jantung berdetak sangat lambat. Gejala ini biasanya disertai perasaan cemas dan was-was. Bahkan, jantung kekurangan suplai darah sehingga menimbulkan nyeri dada yang sangat hebat (angina).

4. Memicu Segala Jenis Kanker : Micin dibuat dengan menggunakan suhu tunggi dalam jangka waktu yang cukup lama. Sehingga dapat membentuk pirolisis yang bersifat karsinogenik, yaitu senyawa berbahaya yang dapat memicu kanker. Jadi, mengonsumsi micin dalam jumlah berlebihan justru bisa mempercepat senyawa pemicu kanker tersebut bekerja.

5. Leher kaku dan pusing : Penyedap rasa dapat membentuk alanin yang menghambat penyerapan vitamin B6 oleh tubuh. Efek secara langsung seperti pusing, leher kaku, mual, mulut terasa kering, dan ruam di wajah. Sindrom ini ditemukan pertama kali oleh dokter Ho Man Kwok pada tahun 1968. Untuk mengatasi gangguan ini, penderita perlu minum banyak air dan istirahat.

6. Kerusakan sistem syaraf : Konsumsi penyedap rasa dalam jangka panjang terhadap sistem syaraf seperti depresi, migrain, insomnia, juga disorientasi. Mantan ahli bedah syaraf benama Russell Blaylock dalam buku berjudul Excitotoxins -The Taste That Kills, menyebutkan bahwa MSG mengandung zat kimia yang bersifat excitotoxin sehingga dapat merusak sel-sel otak. Gangguan syaraf lainnya yang ditimbulkan oleh MSG seperti penyakit parkinson, alzheimer, dan autisme.

7. Efek terhadap kulit : Bahan penambah rasa ini juga dapat menimbulkan efek pada kulit seperti gatal-gatal, sariawan, dan kehilangan sensitivitas kulit.

8. Gangguan pernafasan : Konsumsi MSG secara berlebihan juga dapat memicu masalah sistem pernafasan seperti bersin-bersin dan asma.

Riset selanjutnya menunjukkan bahwa seorang anak yang terlalu banyak mengkonsumsi vetsin atau makanan yang mengandung asam glutanik, maka bagian otak besar yang memproduksi delta akan dapat menghambat pengeluaran hypothalamic untuk menekan thyroxin melepaskan hormon dan menekan hormon parathyroid untuk membiarkan pelepasan hormon, akhirnya akan menyebabkan thyroxin dan parathyroid pengeluaran hormonnya berkurang.

Kurangnya pengeluaran thyroxin akan berdampak negatif bagi pertumbuhan tubuh manusia, akan tetapi hormon parathyroid adalah hormon penting untuk mengatur kalsium darah dan fosfor darah. Hormon tersebut dapat mencegah hilangnya kalsium melalui air seni, serta membantu daya serap usus terhadap kalsium dan fosfor.

Konsumsi MSG secara berlebihan dapat menyebabkan asam glutamat menimbun di jaringan sel otak, sehingga dapat berakhir dengan kelumpuhan. Jika anda masih menyukai bahan ini, sebaiknya ingat akan dampaknya terhadap kesehatan anda. Sebagai pengganti MSG biasanya digunakan ekstrak khamir dan moromi yaitu hasil fermentasi kedelai. Jauhkan anak-anak dari bahan berbahaya ini. Anda dapat menguatkan rasa makanan dengan bahan yang aman seperti garam, gula atau rempah lainnya.

5 recommended
0 views
bookmark icon