Beberapa Penemuan Ini Masih Menjadi Misteri Dan Belum Terpecahkan Hingga Sekarang

Published 3 weeks ago -


Banyak para arkeolog yang memepelajari sejarah kehidupan dengan ditemukannya bangunan dan barang-barang di kehidupan masa lalu.

Segala misteri yang terkandung di dalamnya akan dipelajari sehingga menjadi jelas untuk apa gunanya bangunan atau benda itu dibuat.

Melalui catatan-catatan kuno atau dokumen yang ditemukan, para arkeolog berusaha mengungkap tabir penemuannya. Namun, ada beberapa penemuan aneh yang hingga sekarang masih belum terkuak, teka teki yang dihadapkan sangat komplek, sehingga menunggu hingga waktu yang akan menjelaskannya atau memang bangunan dan benda ini memang tercipta untuk menjadi sebuah misteri.

Berikut penemuan-penemuan aneh yang masih menyimpan banyak misteri dan belum terpecahkan hingga saat ini, antara lain sebagai berikut:

Baigong Pipes

Beberapa waktu lalu, ilmuan dikejutkan dengan penemuan beberapa pipa besi kuno di sekitar Gunung Baigong, Provinsi Qinghai bagian barat, China, yang hampir seluruh wilayahnya tidak berpenghuni.

Selain pipa besi misterius, para peneliti juga mengklaim telah menemukan struktur aneh yang lebih mirip dengan bentuk piramida tak jauh dari lokasi ditemukannya pipa besi tersebut di dekat tepi danau asin Toson.

Menurut para peneliti, bangunan yang mirip piramida tersebut awalnya memiliki tiga pintu masuk seperti lubang goa dibagian sisinya, namun saat ini dua diantaranya sudah hancur dan tidak dapat diakses lagi karena tertutupi oleh reruntuhan.

Sedangkan, pintu satunya yang masih tersisa digunakan oleh para peneliti sebagai pintu masuk menuju ke dalam gua. Disana mereka menemukan sisa–sisa potongan pipa logam di dinding dan lantai-lantai gua yang terdiri dari berbagai ukuran, mulai yang terbesar berdiameter 1,5 kaki hingga yang terkecil hanya seukuran tusuk gigi.

Beberapa arkeolog yang pernah mengunjungi Gunung Baigong sbelumnya, berspekulasi bahwa pipa tersebut kemungkinan merupakan pipa untuk menyuplai air menuju ke piramida.

Teori ini tampaknya didukung juga dengan ditemukannya beberapa pipa-pipa besi di dekat tepi danau Toson. Pipa–pipa di danau itu juga memiliki diameter dan panjang yang berbeda-beda seperti di dalam gua, beberapa ada yang mencapai di atas permukaan air dan lainnya terkubur didalam tanah.

Penasaran dengan penemuan artefak–artefak purbakala ini, Beijing Institute of Geology menganalisa pipa Baigong tersebut menggunakan teknik yang disebut Thermoluminescence.

Metode ini memungkinkan untuk menentukan kapan pipa tersebut terakhir kali mengalami suhu yang sangat tinggi. Hasil analisa menunjukkan bahwa pipa tersebut ternyata telah dibuat sejak 150.000 tahun yang lalu.

Tentu saja temuan ini sangat membingugkan para peneliti, karna pada zaman itu manusia sama sekali belum mengenal logam.

Misteri lainnya yang lebih mencengangkan, analisis yang dilakukan langsung oleh para ilmuan dengan menggunakan teknologi paling canggih itu belum dapat menentukan bahan apa yang digunakan untuk membuat pipa misterius tersebut.

Meskipun diketahui pipa tersebut terdiri dari oksidasi besi, silikon dioksida dan kalsium oksida, namun 8% juga berisi bahan aneh yang belum diketahui.

Tidak mudah untuk menjelaskan penemuan yang membingunkan ini. Keberadaan manusia di wilayah itu terakhir kali ditelusuri adalah 30.000 tahun yang lalu, itupun sebagian besar dihuni oleh suku–suku Nomaden.

Jadi sangat tidak mungkin apabila masyarakat primitif seperti mereka bisa menciptakan struktur canggih semacam ini. Sejumlah teori telah dibuat dalam upaya untuk mencari penjelasan siapa yang bisa membangun pipa–pipa secanggih ini dan apa tujuan sebenarnya pipa itu dibuat.

Salah satunya menyebutkan bahwa perabadan manusia maju yang sudah terlupakan dikala itu telah membangun fasilitas yang digunakan sebagai alat pendinginan dan yang tersisa saat ini hanyalah bekas pipa–pipa aneh yang menuju ke danau.

Namun fakta yang lebih membingungkan lagi ternyata air di danau tersebut adalah asin. Meskipun ada sumber air tawar di sekitarnya, tidak ada satupun pipa yang mengarah ke sumber air tawar tersebut.

Timbullah sebuah pertanyaan lagi, mengapa mereka memerlukan air asin bukannya air tawar? Satu jawaban yang cukup potensial adalah elektrolisis.

Ketika arus listrik mengalir melalui air asin, maka hal itu akan mengurai air menjadi zat hidrogen dan oksigen. Produk semacam itu pastilah dimiliki oleh setiap pesawat terbang yang beroperasi di zaman modern seperti saat ini.

Penjelasan–penjelasan diatas hanyalah merupakan teori atau dugaan semata, entah siapa yang membangung pipa misterius tersebut sampai detik ini masih menjadi misteri.

Ollantaytambo

Ollantaytambo merupakan kompleks kuil besar, berlokasi di Lembah Sakral Inca di dekat Cuzco, di wilayah selatan Sierra di Peru.

Batu-batu megalitik yang ditemukan di sana merupakan salah satu yang terbesar di planet bumi, beberapa di antaranya memiliki berat hingga seratus ton.

Bagaimana manusia purbakala sanggup mendirikan bangunan luar biasa seperti itu masih menjadi misteri besar di antara para ahli yang tidak bisa menjelaskan teknik konstruksi bangunan yang digunakan dalam proses pembangunan.

Terletak di dataran tinggi berketinggian 9.160 kaki (2.792 meter) di atas permukaan laut, Ollantaytambo benar-benar merupakan keajaiban teknik bangunan purbakala.

Belum ada satu pun yang bisa menjawab bagaimana manusia purbakala sanggup menggali, memindahkan dan menempatkan balok-balok batu megalitik ini ke posisinya.

Namun, banyak ahli berpendapat kita mungkin sedang menyaksikan hasil karya teknologi canggih yang sudah “hilang” yang digunakan oleh peradaban purbakala itu ribuan tahun lalu.

Di antara ciri-ciri paling mengagumkan, mereka mendapati bentuk tepian sudut yang sempurna.

Potongan presisi yang mengingatkan kita akan peralatan laser modern dan kesesuaian yang begitu sempurna di antara batu-batu yang tersusun rapi menjadi satu dengan cara sedemikian hingga bahkan selembar kertas pun tidak bisa disisipkan masuk ke antara celah-celahnya

Semua ciri-ciri ini membuktikan matematika dan geometri tingkat tinggi. Namun, Ollantaytambo bukanlah satu-satunya situs purbakala di Amerika Selatan dimana kita dapat melihat keahlian bangunan batu (masonry) purbakala.

Menariknya, ciri-ciri yang sama didapati juga di Puma Punku. Sama seperti situs-situs arkeologi purbakala lain di wilayah tersebut, Puma Punku membuktikan kecanggihan manusia purbakala ribuan tahun lalu.

Mungkinkah penduduk Peru, Bolivia dan Mesir purbakala memiliki pengetahuan canggih dan teknologi yang memungkinkan mereka mendirikan situs-situs purbakala paling mengagumkan di planet ini?

Menurut banyak peneliti jawabannya adalah “Ya.” Dan banyaknya gambar-gambar dan video dari situs-situs ini dan wilayah sekelilingnya merupakan bukti tak terbantahkan bahwa ribuan tahun lalu, peradaban purbakala memiliki pengetahuan dan peralatan superior yang memungkinkan mereka mendirikan situs-situs purbakala paling mengagumkan di planet bumi ini.

Salah satu bukti kecanggihan teknologi purbakala ini adalah lubang-lubang bor yang sangat presisi di dalam batuan andesit yang ditemukan di banyak situs.

Bagaimana manusia purbakala bisa mengebor lubang yang nyaris sempurna ke dalam salah satu jenis batuan paling keras di planet ini?

Apakah mereka melakukannya dengan memakai alat-alat primitif, seperti tongkat kayu dan batu seperti diperkirakan beberapa orang?

Alternatifnya, mungkinkah di suatu saat, manusia purbakala memiliki akses kepada teknologi canggih yang memungkinkan mereka menciptakan bangunan-bangunan dan monumen-monumen yang luar biasa ini?

Dengan melihat gambar dari Puma Punku, anda dapat memperhatikan kesempurnaan yang mencengangkan, anda akan melihat keagungan di setiap konstruksi di Puma Punku, tapi yang paling menonjol adalah anda akan melihat pola-pola misterius yang dapat menjelaskan bagaimana manusia purbakala sanggup mencapai semuanya ini ribuan tahun yang lalu.

Menariknya, jika kita menjelajah separuh belahan dunia ke Mesir, kita akan melihat banyak bangunan purbakala sangatlah mirip dengan yang ditemukan di Puma Punku, Tiahuanaco dan situs-situs di sekelilingnya.

Misteri terbesarnya adalah bagaimana manusia purbakala zaman itu mencapai kemajuan teknologi seperti ini ribuan tahun lalu.

Apakah ini bukti adanya teknologi canggih di zaman purbakala?

Easter Island

Pulau Paskah atau dalam bahasa bahasa Polinesia yang berarti Rapa Nui atau dalam bahasa Spanyol Isla de Pascua adalah sebuah pulau milik Chili yang terletak di selatan Samudra Pasifik.

Walaupun jaraknya 3.515 km sebelah barat Chili Daratan, secara administratif ia termasuk dalam Provinsi Valparaiso. Pulau Paskah berbentuk seperti segitiga. Daratan terdekat yang berpenghuni ialah Pulau Pitcairn yang jaraknya 2.075 km sebelah barat.

Luas Pulau Paskah sebesar 163,6 km². Menurut sensus 2002, populasinya berjumlah 3.791 jiwa yang mayoritasnya menetap di ibukota Hanga Roa. Pulau ini terkenal dengan banyaknya patung-patung (moai), patung berusia 400 tahun yang dipahat dari batu yang kini terletak di sepanjang garis pantai.

Hingga kini patung-patung batu dan Pulau Paskah tetap menjadi misteri. Banyak versi yang mencoba memaparkan bagaimana dan apa yang terjadi di Pulau Paskah.

Namun hal itu tetap menjadi kontroversi. Masalahnya adalah, belum ditemukan bangsa mana yang membuat patung tersebut (dugaanya sementara atau mungkin orang Polinesia yang membuatnya).

Soalnya, pas ditemukan oleh bangsa Eropa, pulau itu sudah kosong. Entah karena penghuninya sudah pindah atau habis karena berperang sendiri.

Patung-patung batu yang terdiri dari sedikitnya 3 varian itu diduga berkaitan erat dengan ritual pemujaan suku-suku yang mendiami Pulau Paskah.

Masing-masing suku punya puluhan arca sendiri dengan ukuran yang begitu besar. Setiap kali terjadi perang antar suku, patung tersebut akan ikut menjadi sasaran penghancuran.

Berdasarkan penelitian, patung batu itu dibuat oleh penduduk lokal dari dinding batu yang terdapat di gunung-gunung berapi yang beradadi Pulau Paskah.

Sedikitnya ada empat gunung di Pulau Paskah. Karena Pulau Paskah sendiri adalah pulau vulkano. Dikawah gunung api utama yang disebut Rano Raraku, masih terlihat jejak-jejak pembuatan patung.

Disana ditemukan patung-patung yang terpahat di dinding batu gunung. Di sekitarnya tersebar 400-an patung yang belum selesai, hampir selesai, dan sudah selesai namun belum dipindahkan.

Patung-patung besar dari batu atau moai, yang menjadi simbol Pulau Paskah dipahat pada masa yang lebih dahulu dari yang diperkirakan.

Arkeologis kini memperkirakan pemahatan tersebut berlangsung antara 1600 dan 1730, patung yang terakhir dipahat ketika Jakob Roggeveen menemukan pulau ini.

Terdapat lebih dari 600 patung batu monolitis besar (Moai). Walaupun bagian yang sering terlihat hanyalah “kepala”, Moai sebenarnya mempunyai batang tubuh yang lengkap, namun banyak moai yang telah tertimbun hingga lehernya.

Kebanyakan dipahat dari batu di Rano Raraku. Tambang di sana sepertinya telah ditinggalkan dengan tiba-tiba, dengan patung-patung setengah jadi yang ditinggalkan di batu.

Teori populer menyatakan bahwa moai tersebut dipahat oleh penduduk Polinesia (Rapanui) pada saat pulau ini kebanyakan berupa pepohonan dan sumber alam masih banyak yang menopang populasi 10.000-15.000 penduduk asli Rapanui.

Mayoritas moai masih berdiri tegak ketika Roggeveen datang pada 1722. Kapten James Cook juga melihat banyak moai yang berdiri ketika dia mendarat di pulau pada 1774. Hingga abad ke-19, seluruh patung telah tumbang akibat peperangan internecine.

Patung Moai itu dipahat dari batu yang berasal dari Rano Raraku, gunung berapi yang sudah tidak aktif lagi di pulau tersebut. Lalu, bagaimana batu-batu raksasa seberat 14 sampai 80 ton ini dipindahkan dari gunung ke beberapa tempat Ahu yang tersebar di pulau tersebut, masih merupakan sebuah teka-teki yang belum terpecahkan.

Menurut dongeng penduduk setempat, nenek moyang mereka menggunakan Manna atau kekuatan supernatural untuk memerintahkan para Maoi itu berjalan sendiri ke atas podium batu.

Ada beberapa teori lainnya yang berusaha memecahkan misteri artifak ini. Beberapa diantaranya percaya bahwa pulau ini adalah ujung dari daratan yang ada pada peradaban prasejarah (bagian dari peradaban Mu/Lemuria), sedangkan yang lainnya berspekulasi adanya keterlibatan kehidupan luar planet.

Spekulasi mengenai campur tangan kehidupan luar memang cukup bisa diterima, sebab berat patung tersebut tidak kurang dari 12,5 ton dan jumlah mencapai lebih dari 880 buah. Proyek pemindahan patung ini sama seperti proyek pemindahan batu-batu raksasa pada Stonehenge dan Piramid.

Ada berbagai lembaran (tablet) yang ditemukan di pulau yang berisikan tulisan misterius. Tulisan, yang dikenal dengan Rongorongo, belum dapat diuraikan walaupun berbagai generasi ahli bahasa telah berusaha.

Seorang sarjana Hongaria, Wilhelm atau Guillaume de Hevesy, pada 1932 menarik perhatian tentang kesamaan antara beberapa karakter rongorongo Pulau Paskah dan tulisan pra-sejarah Lembah Indus di India, yang menghubungkan lusinan (sedkitnya 40) rongorongo dengan tanda cap dari Mohenjo-daro.

Hubungan ini telah diterbitkan kembali di berbagai buku. Arti rongorongo kemungkinan ialah damai-damai dan tulisannya mungkin mencatat dokumen perjanjian damai, misalnya antara yang bertelinga panjang dan penguasa bertelinga pendek.

Namun, penjelasan tersebut masih dalam perdebatan. Meski kadang kala suatu fakta yang hadir di hadapan kita dapat ditafsirkan dengan banyak cara, pada akhirnya penjelasan yang berlaku umum, sederhana dan tidak bertentangan dengan fakta-fakta lain yang ada, itulah yang akan dipilih sebagai jawaban.

Walau klaim Paleocontact Theory belum tentu benar adanya, kita tetap harus bersikap terbuka dengan segala macam kemungkinan solusi. Bagaimana pun, sejarah masa lalu manusia sendiri memang masih menyimpan banyak misteri.

penemuan tersebut mungkin masih banyak menyimpan misteri, karena hasil penelitian para arkeolog pun belum tentu akurat.

Mungkin saja ada kisah-kisah di masa lalu yang tidak bisa ditebak menggunakan teknologi masa kini. Jika saja ada mesin waktu, semua misteri pasti bisa terjawab tanpa meninggalkan teka-teki.

5 recommended
0 views
bookmark icon